Pusat Penangkaran Jalak Bali Resmi Dibuka

KOLOM – Pusat Penangkaran dan Pelepasliaran Jalak Bali Yayasan Begawan secara resmi telah dibuka pada Rabu, 23 Mei 2018. Pusat penangkaran ini untuk mencegah punahnya populasi burung Jalak Bali yang populasinya saat ini kian terancam.

Kepala Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Gianyar Seksi Konserviasi Wilayah II Dewa Made Rupa mengatakan, dibukanya pusat penangkaran dan pelepasliaran Jalak Bali karena perburuan dan penangkapan burung untuk hewan peliharaan masih menjadi masalah utama. Maka itu, kata dia, Yayasan Begawan telah menjalankan program konservasi Jalak Bali sejak tahun 1999 dengan tujuan mengembalikan populasi burung yang terancam punah di alam liar.

“Yayasan Begawan telah melepasliarkan enam puluh lima ekor Jalak Bali di antara tahun 2006 dan 2007 di Pulau Nusa Penida dan enam belas ekor di Sibang dari tahun 2010 sampai 2012, namun banyak burung hilang karena ditangkap oleh pemburu liar,” kata Made melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 23 Mei 2018.

Made mengatakan, untuk pemantauan pelepasliaran burung ini, Yayasan Begawan melibatkan komunitas lokal setempat. Menurutnya, komunitas itu mempunyai peran yang sangat penting dalam memerangi kejahatan satwa liar.

“Kami juga melibatkan masyarakat setempat untuk berpartisipasi di kegiatan konservasi burung, di mana seringkali menantang dan membutuhkan waktu yang lama. Seiring dengan berjalannya program konservasi Jalak Bali berbasis masyarakat di Desa Melinggih Kelod ini, Yayasan Begawan sekarang berada di tengah-tengah masyarakat Melinggih Kelod, tepatnya di Banjar Begawan,” ungkap Made.

Yayasan Begawan telah menjalankan program konservasi berbasis masyarakat di Melinggih Kelod sejak bulan Oktober 2017. Menurut Made, Yayasan Begawan memutuskan untuk bermitra bersama masyarakat setempat untuk memastikan adanya dukungan terhadap pelestarian Jalak Bali, yaitu melalui pengawasan kolektif dan tindakan tidak menangkap dan/atau menjual burung liar ataupun yang telah dilepasliarkan, bisa terlaksanakan dengan baik.

Selain itu, ia meyakini ada keuntungan dari masyarakat terkait penangkaran Jalak Bali ini, “Melalui program konservasi Jalak Bali, masyarakat setempat dapat mengambil keuntungan melalui ecotourism dan pariwisata,” ujarnya.

Senada dengan dia, Pendiri Yayasan Begawan Bradley Gardner pada sambutannya mengatakan, program konservasi berbasis masyarakat dirancang untuk memberikan peluang bisnis kepada masyarakat setempat. “Program ini juga bisa untuk mendukung pelestarian maskot Bali yaitu burung Jalak Bali,” tutur Bradley.

Yayasan Begawan, lanjut Made, juga menjalankan beberapa program edukasi di sekolah-sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler di sekitar Payangan, Bali. Program edukasi itu, menurutnya mempunyai kurikulum yang berfokus kepada konservasi dan lingkungan hidup dan telah menghasilkan “Duta-Duta Jalak Bali” atau ambassador-ambassador cilik yang bersemangat untuk melindungi satwa liar yang terancam punah.

Dinas Pertanian bidang Pertenakan Bapak Ngakan Putu Riadi mengapresiasi upaya program-program Yayasan Begawan ini. “Dengan adanya berbagai program yang mengenalkan spesies Jalak Bali, maka dapat menjadi suatu langkah awal untuk kemudian menyebarkan semangat konservasi ke lingkungan masyarakat yang lebih luas,” tuturnya.

Diketahui, Pusat Penangkaran dan Pelepasliaran Jalak Bali oleh Yayasan Begawan ini dibuka oleh Pendiri Yayasan Begawan Bradley dan Debora Gardner, Dinas Pertanian bidang Peternakan Ngakan Putu Riadi, Kepala Resor BKSDA Gianyar Seksi Konservasi Wilayah II Dewa Made Rupa, dan Kepala Desa Melinggih Kelod I Nyoman Suwardana. Turut hadir pada acara ini penangkar dari Desa Melinggih Kelod, Payangan, Gianyar, Bali.

Please follow and like us:

Add Comment