Partai Golkar Inginkan Jalur Penerbangan Australia-Papua

KOLOM – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Robert J. Kardinal ikut menerima kunjungan delegasi perwakilan Partai Buruh Australia (Australian Labor Party/ALP) di Jakarta, Rabu (7/3/2018). Dalam pertemuan itu dibahas membahas berbagai isu ekonomi dan pendidikan, termasuk kondisi Papua saat ini.“Jadi dalam pertemuan itu dibahas mengenai isu ekonomi, perdangan, dan pendidikan. Saya kan ikut juga disitu. Dalam delegasi mereka itukan juga ada Tim Bidang Pendidikan mereka, saya undang mereka karena pemerintah kini tengah menggodok aturan supaya perguruan tinggi asing bisa masuk ke Indonesia,” kata Robert disela-sela pertemuan. Pertemuan tersebut dipimpin langsung Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Wakil Partai Buruh yang juga Anggota Parlemen Australia, Luke Gosling. Menurut Robert jika investasi pendidikan Australia dibuka di Papua maka akan banyak anak-anak Papua yang akan sekolah di Australia. “Kalau misalnya dibuka di Papua kan jadinya bisa lebih murah dan terjangkau buat masyarakat Papua khususnya Orang Asli Papua (OAP),” ujar dia.

Dikatakan bahwa Perguruan Tinggi negeri maupun swasta sudah ada di Papua. Tapi sekarang dengan adanya regulasi baru yang membolehkan Perguruan Tinggi Asing bisa di Indonesia maka ini sangat positif untuk mendukung agar pendidikan di daerah-daerah seperti di Papua bisa lebih baik lagi. “Di Papua memang sudah ada sekolah-sekolah (tinggi) berbahasa Inggris, tapi kalau semakin banyak kan semakin banyak juga pilihan bagi generasi muda kita di Papua untuk berpendidikan lebih tinggi. Informasi yang saya dengar 1-2 bulan regulasi ini selesai,” ujarnya. “Saya kira ini penting sekali karena hanya dengan pendidikanlah masyarakat Papua bisa lebih cepat memajukan daerahnya khususnya bagi saudara-saudara kita yang Orang Asli Papua itu,” Robert menambahkan.

Dalam pertemuan itu, dibicarakan juga soal perekonomian kedua negara seperti investasi untuk peternakan sapi. Sebab selama ini Indonesia banyak impor sapi, impor daging dan lainnya ini dari luar terutama dari Australia. “Saya minta dengan kedekatan geografis antara Australia dan Papua, maka mungkin investasinya akan lebih bagus di Papua untuk peternakan sapi ini. Karena ini pasti akan lebih memajukan ekonomi masyarakat Papua,” ujarnya. Di bidang pariwisata, untuk lebih meningkatkan kunjungan wisatawan dari Australia maka pihaknya berharap bisa dengan membuka penerbangan langsung dari Darwin atau Perth ke Papua. “Khususnya Sorong dulu lah untuk memajukan pariwisata Raja Ampat. Kalau penerbangan langsung itu dibuka saya yakin akan berdampak bagi seluruh kawasan di Papua dan Papua Barat,” kata dia. Selama ini wisatawan Australia kalau hendak bepergian ke Papua harus terbang ke Bali atau Jakarta lalu ke Papua. “Padahal Australia-Papua ini sangat dekat karena berdampingan. Kalau ada penerbangan langsung kan, mereka tidak perlu lagi transit ke Bali atau Jakarta dulu baru ke Papua,” kata dia. Menurut Robert, delegasi perwakilan Partai Buruh Australia menanggapi serius hal itu dan sangat senang karena menurut mereka Bali sudah terlalu padat. “Bagi wisatawan Australia itu kan yang terkenal ini seperti Raja Ampat, kemudian Kaimana, Manokwari, Telok Wondama, kemudian Puncak Gunung Carstensz yang konon ada es abadi disana,” ujarnya.

Dia berharap Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Pihak Bea Cukai dan Imigrasi harus mendorong regulasi untuk mewujudkan pernerbangan langsung Australia-Papua ini. “Bagaimana pun kita kan harus hidup berdampingan sebagai tetangga yang baik. Makanya saya ngomong ke mereka. Kita bertetangga itu bukan manusia yang create, tapi Tuhan,” ujarnya. Dikatakan sebagai tetangga dekat Australia maka kedua pihak harus hidup bertetangga dengan baik, saling berinteraksi satu sama lain supaya bisa juga meredam hal-hal negatif yang bisa timbul dari hubungan antara kedua negara. “Jadi harus dijaga keharmonisan antara Penduduk Australis dan Papua sehingga tidak ada lagi saling curiga dalam hal politik atau lainnya sehingga nantinya bisa menjadi negara tetangga yang baik,” ujarnya.

source

Please follow and like us: