Mensos, Dana Pembinaan Anak-anak Panti Sosial NTT Masih Kurang

Kabar Daerah – Menteri Sosial RI Idrus Marham tampak tidak puas dengan besaran anggaran untuk dua panti sosial di Naibonat, Kabupaten Kupang. Ia pun meminta DPR untuk menambah anggaran. Kedua panti dimaksud, yakni Panti Efata PSBRW dan Panti Sosial Bina Remaja Naibonat. Kedua panti sosial ini masing-masing mendapat alokasi sebesar Rp 7,9 miliar dan Rp 6,8 miliar untuk tahun 2018. Panti Sosial PSBRW dengan luas 5,5 hektare memiliki 31 pegawai, sementara klien atau penghuninya sebanyak 70 orang dan 220 orang lain di luar panti. Sementara Panti Sosial Bina Remaja memiliki luas 6,8 hektare dengan 31 pegawai. Panti ini mempunyai 120 klien di dalam panti dan 150 di luar panti. Mendengar angka tersebut, Idrus yang juga mantan Sekjen Partai Golkar itu menegaskan, dana tersebut sangat tidak pantas untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian tersebut. “Pak Ketua (Komisi VIII DPR RI), berapa anggarannya? Rp 6 miliar satu tahun. Yang nyata-nyata kita gunakan untuk pembinaan anak-anak kita. Perlu ditambah pak,” kata Idrus di depan Ketua Komisi VIII DPR RI, Ali Taher Parasong yang ikut dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, dengan anggaran yang terbatas itu, hasilnya tidak maksimal. Anggaran hanya habis untuk belanja pegawai dan pemeliharaan fasilitas. Idrus mengatakan lahan panti tersebut sangat luas. Sementara penghuninya sedikit. Oleh karena itu, tidak salah jika ada pengembangan. Lokasi ini dijadikan rumah harapan dan menghasilkan orang-orang yang memiliki kreatifitas. Mungkin tidak bisa bicara, tetapi ada kreatifitas yang tidak bisa dilakukan orang lain.

Ali Taher merupakan putra asli Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur yang menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Provinsi Banten. Turut hadir dalam kunjungan ke Naibonat, Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Benediktus Polo Maing dan Staf Ahli Gubernur NTT, Yovita Anike Mitak, Kadis Sosial NTT, Wellem Foni, Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno dan anggota DPRD NTT Fraksi Golkar, Muhammad Ansor. Hadir pula sejumlah dirjen dan staf ahli menteri dari Kemensos RI. Idrus juga menyinggung keramahan dan ketulusan masyarakat NTT, terutama yang ditunjukkan melalui tarian-tarian adat NTT saat penerimaan tamu. Bahkan dalam kunjungannya di Panti Sosial Naibonat Rabu (4/4), Idrus diterima dengan tarian yang diperagakan anak-anak panti yang notabene sebagian tuna rungu. Dia juga mengakui NTT memiliki peran sangat penting dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, sehingga dia mengaku tidak kaget ketika banyak tokoh bangsa ini berasal dari NTT. Misalnya pahlawan nasional I.H Doko, Sony Keraf, Frans Seda, Yakob Nuwa Wea dan juga Goris Mere yang masih menjabat staf khusus presiden Joko Widodo saat ini.

Mantan Ketua Umum KNPI itu pun menyebut panti sosial sebagai istilah yang tidak pas. Bahkan terkesan sangat mendiskreditkan para penghuni atau penerima manfaat di sana. Menurut dia, harus ada kesepakatan bersama untuk mengubah nama tersebut. “Mungkin kita harus mencari nama, misalnya Rumah Harapan untuk panti yang mengurus soal pendidikan,” sebut Idrus. Sementara Ketua Komisi VIII, Ali Taher pada kesempatan itu sempat meneteskan airmata menyaksikan aksi anak-anak panti membawakan tarian. Menurut dia, masyarakat NTT memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dan menjadi harapan, yakni integritas, karakter, kejujuran dan nilai perjuangan. “Mungkin kita miskin. Dan, DPR tidak sungkan-sungkan untuk memberikan tambahan dana berapa pun untuk kepentingan menggeser airmata kemiskinan menjadi airmata kebahagiaan,” kata Ali Taher.

Please follow and like us: